BAZNAS

  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
    • UNIT PENGUMPUL ZAKAT
    • MITRA PENGUMPULAN
  • Kabar
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
    • RUBRIK AMIL
    • Giat Pimpinan
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Berbagi Hingga Pelosok Jawa Barat
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini
  • ZAKAT
  • INFAK
  • FIDYAH
    • Masuk
    • Daftar
  • Infak
  • Zakat
  • Tentang Kami
    • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
    • PPID
  • Layanan
    • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
    • UNIT PENGUMPUL ZAKAT
    • MITRA PENGUMPULAN
  • Kabar
    • Kabar
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
    • RUBRIK AMIL
    • Giat Pimpinan
  • Donasi
    • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Berbagi Hingga Pelosok Jawa Barat
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini
  • Home
  • Daftar
  • Masuk

Amil dan Urusan Umat

29 Jan 2026
Artikel
Amil dan Urusan Umat

Oleh : Nana Sudiana (Wakil Ketua IV Baznas Jabar)

“Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat". (HR. Muslim No. 2699)

Islam bukan semata agama lisan. Ia tak sekedar diikrarkan lalu selesai begitu saja. Di dalamnya butuh pembuktian nyata, bahkan hingga meninggal dunia. Selain ucapan, keyakinan dalam hati, juga ber-Islam konsekuensinya juga menuruti seluruh ajaran, ritual ibadah-nya, juga mengikuti apa yang dilarang oleh agama ini. 

Fakta lainnya, ber-Islam tak cukup hanya diam dan berusaha baik untuk diri sendiri. Dalam Islam, menjadi pribadi yang baik ternyata tak cukup. Ada tanggungjawab sosial yang melekat pada seorang muslim. Tanggungjawab sosial ini juga yang kadang disebut tanggungjawab keumatan. Seorang muslim harus menjadi bagian urusan keumatan. Hal ini melekat dengan sendirinya dan tak perlu ada pihak yang meminta atau sekedar mengingatkannya. Peran  seorang Muslim dengan Muslim lainnya demikian jelas. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa : “Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain bagaikan bangunan yang sebagiannya menyangga sebagian yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Dalam realitanya, ternyata ada banyak hal serius yang terjadi di tubuh umat Islam saat ini. Di negeri kita saja di Indonesia, kondisi umat Islam kini tak bisa disebut umat yang tanpa masalah. Di negeri yang mayoritasnya adalah umat Islam, saat ini jutaan saudara muslim kita hidup di bawah garis kemiskinan. Pun mereka yang melakukan tindak pidana korupsi, hampir bisa dipastikan umumnya juga seorang muslim. Belum lagi masalah pendidikan, kesehatan, sosial, dan kualitas kehidupan umat ini, semuanya hampir mengalami masalah yang tak ringan. Dengan begitu, jelas saat ini kita tak hanya bisa berpangku tangan, berharap masalah yang ada selesai sendiri. Realitas kehidupan umat ini meminta tanggungjawab kita juga untuk terlibat, turun tangan dan berpartisipasi langsung maupun tidak langsung dalam mengurangi beban persoalan umat Islam.

Amil Yang Kian Penting

Bagi sebagian orang, menjadi amil barangkali tak terpikirkan sama sekali. Apalagi menjadi Impian dan cita-cita masa kecil layaknya dokter, guru atau menjadi pengusaha. Kenyataan bahwa amil bukan profesi Impian ternyata terbukti ketika kita bertanya kepada mereka yang akhirnya ‘terdampar hidupnya” menjadi amil. Banyak dari mereka mengaku tak pernah membayangkan akan menjadi amil dalam kehidupan-nya.

Bagi para amil, terutama mereka yang memasuki sektor zakat ini di fase awal sekitar tahun 2000-an, menjadi amil adalah profesi yang tidak populis.    

Para amil yang awal bergabung di pengelolaan ZIS lebih banyak di isi mereka yang idealis. Memandang kehidupan sebagai ladang perjuangan. Mereka menganggap bahwa sektor ZIS ini adalah wahana perjuangan dalam membantu umat dan persoalannya. Saat itu, tak banyak liputan soal amil, apalagi penghargaan atau semacamnya. Amil benar-benar seolah profesi “terasing” dan tak menarik untuk dimasuki, apalagi untuk menjadi bahan cerita atau publikasi.    

Pada waktu awal perkembangan pengelolaan zakat, para amil banyak yang hanya fokus pada urusan mendorong mustahik menjadi muzaki dan memastikan muzaki puas terlayani. Tak banyak amil yang berpikir gaji, fasilitas serta beragam “kemewahan” seorang pekerja. Para amil berdiri, bergerak dengan tangkas, bahkan rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran-nya hanya ingin menjadi “suluh” bagi kegelapan hidup para mustahik. Mereka siang malam bekerja, kadang banyak malah yang hanya berteman kesenyapan. Tugas-tugas yang ditunaikan, terkadang bukan saja mendekati risiko terganggunya aspek kesehatan, malah kadang mendekati risiko kematian.

Para amil fase awal dunia zakat, memiliki cita-cita sederhana. Mereka ingin menjadi bagian yang disebut sebuah hadits sebagai problem solver mukmin lainnya, apalagi yang dhuafa. Para amil ini juga sangat percaya bahwa siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini, tentu saja sejalan dengan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

"Dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu, dari Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wasallam bersabda : Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (maksudnya masjid, pen) dalam rangka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada di sisiNya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya".

(HR. Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 1425, Abu Daud No. 1455, 4946, Ibnu Majah No. 225, Ahmad No. 7427, Al Baihaqi No. 1695, 11250, Ibnu ‘Asakir No. 696, Al Baghawi No. 130, Ibnu Hibban No. 84).

Para amil ini, tanpa lelah terus bergerak, memerankan dirinya dalam sebuah tanggungjawab kolektif untuk memperbaiki urusan umat dan menjadi bagian atas problem yang ada. Mereka sadar bahwa masalah-masalah umat ini tak sedikit jumlahnya dan tak mudah. Apalagi bila menyangkut gaya hidup dan mentalitas umat Islam saat ini. Kebodohan umat dan kejahilan-nya kadang menjadi pembenar banyak umat Islam, terutama yang dhuafa untuk melalaikan ibadah mereka pada Allah SWT dan kadang secara terbuka malah melakukan kemaksiatan yang dilarang oleh Allah SWT, Apalagi di kalangan dhuafa yang punya alibi karena terdesak atau tidak adanya pilihan.    

Amil semakin hari semakin diharapkan tampil ditengah masyarakat. Membersamai setiap kesusahan hidup yang ada lewat berbagai program nyata yang dibuat sehingga programnya secara nyata bisa dirasakan masyarakat, baik di perkotaan hingga ke pelosok desa. Amil dan organisasi pengelola zakatnya harus terus hidup dan menjadi teman setia para dhuafa. 

Kebangkitan Amil dan Pengelolaan Zakat

Kini, amil dan pengelolaan zakat semakin populer, banyak orang-orang hebat bergabung menjadi amil zakat. Pun secara perlahan BAZNAS dan LAZ yang memang bertugas mengelola zakat semakin punya kemampuan yang baik dalam mendorong perbaikan kehidupan masyarakat miskin dan dhuafa. Para pengelola zakat juga semakin terdepan dalam meningkatkan kesejahteraan kehidupan mustahik. Majelis-majelis ilmu tentang ZIS bukan hanya ada di masjid, namun juga meluas ke sejumlah kampus-kampus ternama. 

Ketika ghirrah dan semangat berzakat telah demikian massif, maka ketika itulah puncak kebahagiaan seorang amil. Kebahagiaan ini tampak sederhana, namun bagi para amil begitu dalam dan penuh makna. Bekerja sebagai amil zakat, walau tak banyak mata memandang tetap membahagiakan. Apalagi ketika menyaksikan adanya perubahan mustahik yang dikelolanya perlahan bisa sukses dan mampu menjadi seorang muzakki.  

Urusan umat memang semakin hari semakin banyak dan rumit. Di tengah berbagai macam keterbatasan umat, tetap harus ada yang bergerak dan berdiri di depan gelanggang kehidupan, membantu umat mengatasi masalah kesehariannya. Umat butuh teman, juga butuh amunisi untuk terus berjuang meningkatkan diri sehingga bisa terus lebih baik dan terbebas dari belenggu kemiskinan dan kefakiran. Umat yang fakir, sebagaimana kita tahu, adalah umat yang lemah dan tak berdaya dihadapan pihak lain yang akan merusaknya. Umat butuh penguat, sekaligus dorongan untuk mampu berdiri di atas kedua kakinya sendiri, sehingga ia punya kemampuan untuk bersikap independen dalam sejumlah urusan dan mampu mandiri dalam hal urusan kehidupan ekonominya.

Umat yang berserak, sudah pula saatnya diikat dengan kesadaran penuh sebagai sesama anak bangsa untuk melangkah bersama dan bahu membahu menuju titik terang dan tujuan akhir kehidupan sebagai seorang muslim. Kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat inilah tujuan dan cita-cita yang menyatukan langkah kita dan menjadikan semua urusan lainnya tak lagi relevan untuk diperdebatkan. 

Seberat apapun urusan umat yang kita pikul bersama-sama, ini jauh lebih ringan bila kita sendirian. Selemah apapun kemampuan kita hari ini dalam menjadi solusi urusan umat, maka semoga saja kekuatan kita terus Allah tambah dan diberikan kemudahan dalam menanganinya. Mari kita terus dekatkan diri pada Sang Illahi Robbi Yang Maha Kuasa dan juga Maha Kaya. Semoga sebagai amil, kita semakin dekat dengan-Nya dan semakin kuat keyakinan bahwa Allah SWT tak akan meninggalkan kita walau sesaatpun, sehingga hati semakin mantap dan memiliki rasa tenang (sakinah) dalam menjalani tugas-tugas sebagai amil dalam membantu urusan umat. Apapun yang terjadi, Insyallah "Gusti Allah mboten sare".

*). Bandung Kidul menjelang malam, 29 Januari 2026

Share

Baca Juga

Artikel
7 Manfaat Puasa Ramadhan
06 Feb 2024
Artikel
Rekomendasi Santap Sahur Untuk Anak Kosan
15 Apr 2022
Artikel
69 Warga Jabar Kerusuhan Wamena Berhasil Dipulangkan
10 Oct 2019
Artikel
Apakah Dapat THR Wajib Zakat?
13 Mar 2025
Artikel
BAZNAS Jawa Barat Salurkan Zakat Fitrah Kepada 180 Mitra Grab Lansia
11 May 2021
Artikel
Pengertian Zakat dan Jenis-Jenis Zakat
12 Apr 2021
Infak Sekarang
Jl.Soekarno-Hatta No.458, Batununggal, Bandung Kidul, Bandung 40266 (022) 87315606

Kenali Kami

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

Layanan

  • Rekening Zakat
  • Konfirmasi Donasi
  • Kalkulator
  • Channel Pembayaran
  • Jemput Zakat

Donasi

  • Program
  • Zakat
  • Fidyah
  • Infak

Ikuti Kami

  • BAZNAS Jawa Barat
  • BAZNAS Jawa Barat
  • BAZNAS Jawa Barat
  • BAZNAS Jawa Barat
© 2015-2026, Baznas Jawa Barat